Cerpen: Sekeder Asa
Sekedar Asa
Oleh: Ra_Story1
“Astaghfirullah.
Aku kesiangan, mati aku.” Ucap Salwa sambil bergegas untuk mandi.
Lupa adalah hal
yang paling manusiawi. Termasuk lupa bangun. Itulah Salwa, begadang malam untuk
menyelesaikan bacaan novel di aplikasi oren kesukaannya. Sampai tak sadar
matahari semakin terang, hampir jam 7 pagi. Bak kilat Salwa berangkat menuju
kampusnya. Naik tangga dengan kecepatan super akhirnya dia . Ketika tiba di kampus
Salwa tercengang melihat keadaan kelas yang ternyata sunyi tak berpenghuni.
Saat membuka ponsel ada notifikasi bahwa perkuliahan hari ini di tunda.
“Sungguh sial,”
Ucap Salwa geram.
Ditengah jalan
Salwa bertemu dengan Rara, teman satu kosnya. Rara berbicara banyak tentang
pertetanggaan kos. Salwa hanya menyimak cerita Rara itu dan sedikit demi
sedikit melupakan geramnya tadi.
“Gini, Wa. Kan
di kos kita gak ada Wi-Fi nya. Jadi,
kami itu masang Wi-Fi bareng terus
mau ngajakin kamu buat ikut dan bayarnya patungan? Kira-kira kamu mau ikut
gak?” Tanya Rara.
“Hm, menarik.
Nanti aku pikir-pikir lagi, Ra.” Sahut Salwa.
“Yaudah. Aku izin beri nomor WA kamu ya.
Nanti, ada teman aku yang ngechat kamu soalnya dia yang mengkoordinirnya dan
ngejelasin ulang. Dadah, aku duluan ya” Ucap Rara.
Satu jam kemudian,
muncul notifikasi nomor baru. Tertulis nama Rama. Salwa sudah sedikit membaca
apa isi pesan yang dikirimnya jadi dia tahu bahwa dia teman yang membahas
mengenai Wi-Fi tadi. Setelah
pembahasan tentang hal itu. Rama dan Salwa pun saling berkenalan. Berbasa-basi
layaknya tetangga pada umumnya di chat.
Walau kenyataannya selama mereka tinggal di kos tapi mereka berdua tak pernah
saling sapa, walau berada ditempat yang sama tetap saja tak berani membuka suara.
Beberapa bulan kemudian...
Kos-kosan yang
biasanya ramai menjadi sepi. Sebab ritual anak kos ketika libur semester adalah
pulang kampung. Memecah celengan rindu dengan keluarga, kesempatan inilah yang
harus dipergunakan sebab liburnya tak lama.
Kemudian, tak
terasa liburan itu berakhir, saatnya kembali ke perkuliahan dan kembali tinggal
di kos tercinta walau kaki berat untuk kembali. Mau tidak mau harus pergi untuk
menuntut ilmu. Satu persatu penghuni kos mulai berdatangan.
“Alhamdulillah,
akhirnya sampai.” Ucap Rama sambil mengangkat tasnya
“Yuk, kita
bersihin dulu supaya bersih.” Ucap Raka teman satu kosnya
Kos yang
ditinggalkan kurang lebih satu bulan itu terlihat kotor, banyak debu di mana-mana.
Walau lelah tapi harus dibersihkan. Cepat selesai cepat juga istirahat. Itulah
prinsip mereka.
Di sisi lain...
3 jam setelah kedatangan
Rama dan Raka, Salwa pun tiba di kos. Membawa banyak makanan dari kampung untuk
persediaan selama tinggal di kos, 1 tas koper berisi baju dan buku dan tas
ransel mininya. Lelah itulah yang dirasakan Salwa, untung di perjalanan dia
tidak mabuk.
Perkuliahan
terus berjalan, rutinitas Rama yaitu berkuliah. Bolak balik kampus setiap
harinya. Begitupun dengan teman-teman kos yang lain. Sibuk, karena semester
genap dan baru memulai perkuliahan. Tugas dan tugas terus berdatangan. Sampai
ketika pandemi melanda. Iya, virus Covid-19 yang berasal dari Wuhan, China.
Masuk ke Indonesia dan saat itu perkuliahan diliburkan selama 14 hari.
Perkuliahan yang
sebelumnya offline menjadi online, membuat semua harus bisa beradaptasi dengan
sebaik-baiknya. Tak jarang dosen memberi tugas secara bersamaan dan membuat
kewalahan. Selama 14 hari itu kegiatan Salwa hanya mengerjakan tugas dan
berkuliah. Belum ada niat untuk segera pulang kampung. Walau tetangga kos
semua, termasuk Rama, Rara, Raka sudah pulang semua. Salwa beralasan untuk
lebih lama menetap di kota karena jaringan.
“Kita kapan
pulang kampung? Takutnya nanti gak bisa pulang kampung lagi gara-gara di lockdown. Teman-teman kita dah pada
pulang.” Ucap Kakaknya Salwa khawatir
“Iya kak, nanti. Nunggu
tugasku selesai baru kita pulang. Aku juga takut.” Jawab Salwa
Salwa menjadi
galau, gara-gara pembicaraan itu. Hatinya sebenarnya rindu ingin pulang, tetapi
keadaan belum mendukung sebab naiknya kasus Covid-19 di kota yang ia tinggali. Kemudian
Salwa memposting video di status WA tentang seorang anak yang tidak bisa pulang
kampung diperantauan karena pandemi. Tak disangka status itu dikomentari oleh
Rama. Setelah beberapa saat pembicaraan itu selesai karena hari semakin malam.
Beberapa hari
kemudian, kembali Rama menghubungi Salwa, berbasa-basi, membahas Wi-Fi, serta
rencana pulang kampung sampai masalah pribadi. Salwa merupakan seorang
perempuan yang manis, anak rumahan, juga sangatlah cuek. Berbanding terbalik
dengan Rama yang suka nongkrong, senang bersosial, dan juga ramah. Walau ramah
Ramapun tak pernah menyapa Salwa ketika tak sengaja berpapasan ketika di kos, tapi
diam-diam memperhatikan Salwa dari kejauhan.
Rama semakin
penasaran dengan sifat Salwa itu. Berbagai cara Rama lakukan untuk bisa
mendekati Salwa. Misalnya, menyuruh-nyuruh Salwa ini dan itu kemudian meminta
bantuan untuk mengerjakan tugaslah yang paling sering. Salwa kesal, dirinya
bukan babu yang bisa disuruh-suruh seenaknya. Salwa sering kali menolak membantu
Rama tetapi tetap saja Rama gigih melakukannya.
Kemudian, Rama
dan Salwa berbagi cerita kehidupannya, entah itu masa kecilnya, sahabatnya,
kegiatan hariannya, hobi dan lain-lain. Dari sini mereka berdua bertukar kisah
dan semakin dekat. Walau Salwa sering merasa heran kenapa Rama sering
menghubungi dia setiap hari? Dan Rama pun bertanya-tanya dibenaknya, kenapa
Salwa mau membalas chat nya? Sungguh
dua pertanyaan ini menganggu keduanya. Namun dari pertanyaan ini tak ada
jawaban yang jelas.
Pandemi yang tak
kunjung usai, mengharuskan perkuliahan daring terus berlanjut. Tak ada alasan
bagi Salwa untuk kembali ke kota sedangkan Rama sibuk sebagai aktivis kampus.
Komunikasi antara Rama dan Salwa mulai berkurang dan berakhir lost contact. Salwa
tidak mempermasalahkan hal ini, cuma dirinya merasa sedikit kehilangan. Pergi
tanpa pamit, untuk menghindari sebuah perasaan. Salwa ingat kata-kata terakhirnya
yakni Wassalam. Sebagai penutup dari kisah selama 4 bulan lebih.
Waktu terus berjalan...
Perkuliahan
daring telah terlewati hampir setahun. Sudah mulai bisa beradaptasi dengan
pembelajaran daring. Tidak seperti sebelumnya. Sudah terbiasa itulah mahasiswa
yang sebentar lagi memasuki semester 4. Kangen offline tapi nyaman dengan online.
Sekarang, masa libur semester kembali. Tak terasa, Salwa sudah lama tidak
kembali ke kota. Rindu tapi dia lebih memilih tinggal di desa, menikmati waktu
berkumpul dengan keluarga, suasana sejuk walau jaringan tak merata, tidak
mengapa.
Lain halnya
tentang perasaan tidak bisa dibohongi, semakin Rama mencoba melupakan semakin
dia mengingat kenangan. Dipendam tapi menyiksa, diungkapkan tapi bingung harus
bagaimana. Rama tersiksa dengan perasaannya. Semakin menjauh namun semakin
teringat, padahal sudah setengah tahun tidak komunikasi. Bahkan Rama sudah punya
teman dekat yang lain. Tapi tetap saja. Akhirnya Rama memberanikan diri untuk
membuka percakapan dengan Salwa setelah lama lost contact.
“Assalamu’alaikum,
Salwa.” Tertulis di aplikasi WhatsApp itu.
“Wa’alaikumussalam.”
Jawab Salwa. Salwa heran orang yang lama tak menghubunginya tiba-tiba
menghubunginya, tak menampik Salwa senang.
Pembicaraan
mereka bak kucing dan tikus sebenarnya. Sering memperdebatkan hal sepele.
Namun, satu ketika ditengah perdebatan itu Rama mengungkapkan perasaannya.
“Aku suka kamu.”
Salwa yang membaca
pesan itu sangatlah syok. Ternyata mereka memiliki ketertarikan yang sama.
“Sejak kapan?”
balas Salwa
“Gak tahu.
Seiring berjalannya waktu perasaan itu ada. Cuma aku mau kita punya ikatan.
Gimana kamu mau jadi pacar aku?”
Salwa tambah syok
membaca balasan chat tersebut. Salwa
sedikit tersinggung ketika Rama mengajaknya berpacaran. Salwa adalah orang yang
berprinsip tidak ingin berpacaran sebelum menikah dan dalam keluarganya tidak
ada hal itu, walaupun dia punya rasa yang sama tapi Salwa sadar pacaran bukan
hal yang tepat.
“Aku sebenarnya sangat menghargai perasaanmu. Terima kasih, tentang suka atau tidaknya itu adalah hak dirimu. Entah apa yang kamu sukai dariku yang banyak kekurangan ini. Mohon maaf, aku tidak berpacaran. Tolong mengertilah. Jika kamu serius, waktunya bukan sekarang tapi datanglah dengan lamaran. Mari memantaskan diri. Semoga kita bisa berteman baik, menjaga silaturahmi walau kita sebenarnya tak lebih dari sebatas teman.” Tulis Salwa.
Semoga suka. Terima kasih yang sudah baca. See you di cerpen berikutnya💓

Komentar
Posting Komentar