Cerpen: Kala Itu
Kala Itu
Oleh: Ra_Story1
Masa lalu pasti jadi kenangan entah itu pahit atau manis.
(IMN)
Tahun
2019, saat masih menikmati masa indahnya status mahasiswa baru atau MABA. Aku
sangat bersemangat ikut kegiatan yang ada dikampus, salah satunya adalah
mendaftar menjadi calon mahasantri Ma’had Al-Jami’ah dan aku ikut digelombang
pertama pendaftaran. Sebenarnya aku bimbang antara mau daftar atau tidak.
Sebab, kalau lulus otomatis harus tinggal di ma’had selama 1 tahun. Aku
berusaha meyakinkan diriku sendiri untuk ikut atau tidak dan akhirnya aku
memantapkan hati untuk ikut. Aku semangat saat itu, sampai-sampai susah payah
aku minta izin dan membicarakannya dengan orang tuaku agar disetujui mendaftar
sebab di kota aku sudah punya tempat tinggal sendiri dan aku belum pernah sama
sekali tinggal di asrama.
Tahun
itu entah mengapa sistemnya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang mana
mahasiswa wajib masuk ma’had tetapi dengan sistem rolling atau bergantian
sehingga semua bisa merasakan kegiatan dan tinggal di ma’had. Namun, di tahun
2019 itu sistemnya berubah. Tidak lagi wajib tapi bagi yang benar-benar mau
saja. Proses sampai diterima menjadi mahasantri juga tidaklah mudah karena melalui
proses yang cukup panjang.
Untuk pergi ke kota orang tuaku rela menyewa
mobil untuk beberapa hari. Begitu besar dukungan mereka untuk anaknya. Kami
juga mengajak teman satu daerahku untuk ikut sama-sama, karena dia ikut tes
juga, walau beda fakultas dengan aku. Tujuan ke kota ada urusan tapi berkedok
liburan.
Hari pertama di kota, suasananya indah, khas
sekali banyak gedung tinggi, namun matahari memancarkan sinarnya, panasnya
terik menusuk kulit. Kala itu, sekitar jam 13:00 siang, kami berangkat dari
rumah untuk menyelesaikan berbagai macam urusan. Aku dan temanku diantar lebih
dulu ke kampus dan setelah itu ayahku ada urusan di kantor gubernur. Setelah
beberapa waktu, kami dijemputlah untuk pulang. Di tengah jalan terbersit di
otakku untuk bisa memanfaatkan waktu selama di kota dengan jalan-jalan. Peluang
yang besar dan harus terwujud ucap dalam hatiku.
“Yah, malam ini kita ke taman yuk. Soalnya
belum pernah ke sana”. Ucapku
“Iya, boleh”. Ucap ayahku.
Sebenarnya beliau mikir cukup lama dan
akhirnya menyetujuinya. Aku pun tak menampik rasa senang itu sebab keinginan ke
sana terwujud.
“Kamu ikut ya malam ini, nanti aku jemput.
Mumpung ada kesempatan”. Bujuk aku pada temanku
“In Syaa Allah ya, aku minta izin dulu ke
tanteku”. Ucap temanku
“Tenang aja, tantemu pasti mengizinkan. Kamu
aman dengan kami. Nanti aku telepon ya habis Isya”. Ucap aku tidak mau dibantah
Sampai
dirumah, aku kemudian mengajak mama dan tanteku untuk ikut jalan-jalan ke taman. Namun, ternyata mereka
menolak karena masih pusing akibat mabuk di perjalanan. Sesudah Isya, saat mau
berangkat ke taman. Berkali-kali sudah di chat dan telepon tapi tidak
ada jawaban oleh temanku itu. Kami beda tempat tinggal, lumayan dekat tapi beda
komplek saja. Setelah beberapa saat ditunggu masih gak ada kabar. Akhirnya kami
jemput.
Ketika
di sana, banyak sekali pedagang kaki lima yang berjualan, badut, orang-orang
berlalu lalang dan liburan. Aku menatap pemandangan yang indah saat melihat
taman tersebut karena baru pertama kali ke sana. Maklum anak desa ke kota. Senang
di bawa berkeliling area taman tersebut oleh ayahku. Apalagi kalau di beliin
makanan dan dibayari. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Capek
sudah berkeliling dan banyak juga tempat yang cocok untuk berfoto. Tiba-tiba,
ayahku yang nawarin duluan buat motoin kami berdua, kaget sebab jarang banget
beliau gitu.
“Sini
ayah foto in”. Ucap ayah sambil mengambil gawai yang aku berikan.
Ternyata
hasil jepretan ayahku cukup bagus, pemandangannya indah di gemerlapnya malam
itu.
Setelah
puas berkeliling dan malam semakin larut. Lalu, kamipun pulang. Sampai rumah,
aku tersadar bahwa besok adalah ujian tes calon mahasantri. Pikirku semua harus
benar-benar dipersiapkan baik itu hafalan, mental, dan lain sebagainya.
Ke
esokan harinya, entah perasaanku atau gimana aku merasa saat itu hafalanku
kurang nempel. Muroja’ah berkali-kali ingat cuma kadang kalau 2 jam setelahnya
jadi lupa. Jadi, saat itu aku berusaha meyakinkan hatiku bahwa aku bisa, sabar
dan istighfar.
Waktu
yang ditunggu-tunggu tiba, yakni hari tes ujiannya. Pagi hari sebelum jam 6
pagi aku sudah berangkat ke kampus. Sesampainya di sana Alhamdulillah banyak
ketemu teman-teman baru, saling kenalan, bertukar nomor WhatsApp, saling
sharing, dan lain-lain sembari menunggu giliran tes. Sampai pada
akhirnya ternyata aku yang dipanggil maju pertama, karena absenku saat itu
nomor satu. Gak enaknya jadi nomor pertama yang dipanggil karena masih bingung
mau bersikap apa. Biasanya kalau maju nomor dua atau seterusnya bisa
nanya-nanya ke teman yang sudah maju duluan. Jujur, gak pernah terpikir bagiku
akan dipanggil nomor pertama saat tes. Kalau dibilang gugup? Pastinya gugup.
Lalu,
aku berjalan masuk keruangan tempat tes tersebut. Di ruangan tersebut tersedia
beberapa meja dan ada 2 orang sister yang akan menjadi penguji. Satu sister
penguji satu calon mahasantri juga. Akhirnya akupun duduk di kursi yang
disediakan khas dunia perkampusan. Rasanya nano-nano banget.
“Pertama,
tes ngaji dulu ya. Silakan buka Al-Qur’annya”. Ucap sister
“A'udzubillahi minassyaiithaa ni rrajiim......”.
Setelah selesai, lanjut tes hafalan. Di tes
hafalan ini juga ada beberapa yang nyangkut, jadi kayak semacam ragu gitu.
Terus terakhir, adalah tes wawancara. Pertanyaannya cukup banyak dan aku
menjawab secara apa adanya.
“Di
kota tinggal sama siapa?” Tanya sister
“Sama
kakak”. Jawabku
Setelah
beberapa saat, lega tapi masih gugupnya ke bawa. Lalu, aku keluar ruangan dan
akhirnya selesai tahap ujianku.
Beberapa
hari kemudian...
Kami
sekeluarga, dan temanku sudah kembali ke desa. Kala itu, juga bertepatan dengan
pengumuman kelulusan tes calon mahasantri Ma’had gelombang pertama. Pastinya
gugup, saat buka WhatsApp grup, link pengumuman sudah di bagi. Aku
langsung membuka link dan mendownload file tersebut. Aku mencoba membaca satu
persatu sambil mencari namaku. Scroll berulang kali juga tidak ada
namaku. Aku juga sambil melihat
nama-nama siapa aja yang lulus. Qadarullah, ternyata aku gak
lulus. Sedangkan teman-teman dekatku semua pada lulus cuma aku yang gak. Saat
itu, aku cuma tersenyum aja melihat namaku gak ada di file itu. Sampai setengah
jam aku masih kuat dan gak papa. Aku berusaha nguatin diriku sendiri tapi
ternyata pertahanan itu tetap runtuh. Aku down banget dan sedih gak
berhenti sampai beberapa hari. Mama yang melihatku nunduk langsung
menyemangatiku.
“Lulus
gak?” Tanya mama saat itu
Aku
hanya bisa menggeleng sambil nangis.
“Gak
papa gak lulus, belum rezeki berarti”. Ucap mama sambil menghiburku
Air
mataku mengalir terus sampai mataku menjadi sembab gara-gara kelamaan menangis.
Ada
saja yang bilang terlalu berlebihan sampai nangis. Lalu, bagi orang-orang yang
lulus tes menganggap tes ini adalah hal yang mudah. Bisa-bisanya hal itu
diucapkan pada orang yang tidak lulus. Bagi kalian mudah belum tentu bagi
orang lain itu mudah. Dan apa yang kamu
dapatkan sekarang bisa saja menjadi impian semua orang.
Kala
itu, aku yang sebagai MABA yang baru lulus SMA pengen banget dapat pengalaman
baru dan mengenal dunia kampus, merasa benar-benar gagal. Aku mencoba
menyemangati diriku sendiri bahwa pasti ada rencana indah dibalik semua itu. Pengalaman
gagal ini benar-benar menamparku supaya jangan terulang dikemudian hari. Dan
buktinya setelah dua tahun berlalu, rencana Allah sangatlah indah.
Dalam Al-Baqarah ayat 216: Tetapi boleh
jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan
boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Allah memberikan hal yang lebih baik dan tidak
di sangka daripada yang kita duga. Setiap kejadian pasti ada pelajaran. Jadi,
berbaik sangkalah kepada Allah, sabar, bersyukur atas apa yang terjadi,
bangkitlah dan berusahalah sampai indah pada waktunya.

Komentar
Posting Komentar